16359 

Rublik Ramadhan hari senin, 30 Juli 2012 (Lihat Jawapos Radar Kudus)

Menunggu Buka Sambil “Bergunjing”
Oleh: Siti Muflichah

Tulisan ini diilhami oleh pengalaman penulis ketika harus “bergunjing” di bulan Ramadhan. Bergunjing yang didefinisikan membicarakan  kejelekan orang lain, dalam bulan-bulan biasa, apalagi  Ramadhan sangat ditekankan untuk ditinggalkan. Jika melihat judul di atas, apakah bergunjing hal-hal yang akademik, berdosa? Bagi yang bergelut setiap hari dengan dunia akademik, (guru, dosen, educational  policy maker), mungkin tidak asing dengan term  bergunjing akademik tersebut. Yang dimaksud bergunjing di sini adalah semacam mendiskusikan sesuatu  pada bulan Ramadhan, tapi tidak dengan cara yang formal. Bahan diskusi bisa hal-hal di sekitar tanggung jawab di dunia akademik, yang sekali lagi, mungkin, bukan merupakan tugas pokok mereka. Kegiatan ini dilakukan di kampus, sekolah di jalan atau pun kantor sambil menunggu bedug magrib. Tentu bergunjing yang seperti ini tidak dilarang atau boleh dikatakan malah sangat dianjurkan. Dianjurkan karena mengingat manfaat yang dihasilkan, jika tidak berlebihan, bisa dianggap sebagai sebuah rapat tapi tidak direncanakan apalagi disiapkan kudapan dan minuman.

 Pengalaman penulis sendiri melakukan hal ini ketika berdinas ke luar kota dengan beberapa teman seprofesi di dalam mobil. Awalnya terasa malas karena melakukan perjalanan di siang hari bulan puasa, dan pulang rumah mungkin malam. Tapi karena harus menjalankan tugas, akhirnya berangkat juga. Dalam rihlah tersebut, kadang ada curhat, keluh kesah atau mengabarkan berita baik, bahkan info-info tergres. Ketika itulah sesama teman akan memberikan respon atas apa yang diinformasikan. Di sini, meskipun tidak ada kata jelas meminta pendapat atau tanggapan, secara otomatis akan ada respon. Sementara teman yang ketiga, akan menimpali bahwa hal tersebut perlu dipikir untung ruginya, kemungkinan-kemungkinannya, dan seterusnya. Ketika ada terasa bahwa alur pembicaraan adalah menyebut nama seseorang, salah satu harus berusaha untuk menghentikannya. Ini adalah bentuk bergunjing tapi yang tidak membicarakan kejelekan orang lain. Dan jika topik yang dibahas adalah tema-tema aktual dan mengedepankan rasio akademik, maka penulis mengatakan inilah bergunjing akademik itu. Sebenarnya bergunjing akademik juga bisa dilakukan kapan dan di mana pun, tetapi yang menjadi titik tekan di sini adalah, meskipun siang hari bulan puasa dan melaksanakan tugas, kita tetap dapat melakukan hal-hal yang berguna, tapi bermanfaat, dan kegiatan tersebut tidak terasa sebagai suatu beban. 

Mari kita budayakan bergunjing akademik di bulan penuh berkah ini.




Back to Top