16340 

Rublik Ramadhan hari selasa, 25 Juli 2012 (Lihat Jawapos Radar Kudus)



KEBERKAHAN RAMADHAN

OLEH: MUHAMMAD NURUDDIN, M.Ag

Pada dasarnya apapun pekerjaan yang dipilih seseorang apakah sebagai petani, pedagang, nelayan, tukang batu, pegawai, sampai wiraswasta. Semuanya akan diuji oleh Allah. Semakin tabah dan kuat menghadapinya niscaya derajad sang hamba akan menjadi seorang yang mulia disii Nya.

Seorang tukang batu misalnya, betapa beratnya menghadapi sengatan terik matahari di di siang hari. Sementara dia harus mempertahankan puasanya, apalagi saat ini sedang musim panas. Tukang becak juga demikian, dia mesti mengayuh becaknya guna mengantarkan hantaran pelanggan dari tempat yang satu ke tempat lain. di tengah sawah atau lading yang amat panas, para petani sedang mengayunkan cangkulnya sambil mengusap keringrat tang menetes dari sekujur badan. betapa berat beban puasa yang ditanggungnya. Sebagai seorang mukmin dia mesti mempertahankan puasanya sebagai bukti ketakwaan kepada Allah.

Demikian juga bagi seorang pedagang, di tengah-tengah tawaran para pembeli dia mesti menahan tidak mencicipi atau memakam makanan yang dijajakannya. Padahal cuaca sangat panas, perutnya merasa lapar, menuntut asupan makanan. Tidak cukup disitu, untuk melariskan dagangan ia harus menjaga mulutnya dari ucapan dusta, bohong, dan menipu pembeli. Ia takut puasanya ‘batal”. tidak cukup disitu, tatkala transaksi telah disepakati, ia juga menahan diri tidak mau mengurangi timbangan atau takaran yang dipakai. Sang pedagang takut ibadah pusanya sia-sia.     

  Bagi para nelayan, berat sekali menahan terpaan angina dan hantaman ombak di tengah lautan. Suasana lapar, lelah, bercampur rasa haus selalu menyelimuti dirinya. Pada saat itu dia sedang diuji untuk tidak memakan, meminum, menjaga hawa nafsu karena telah  lama meninggalkan keluarga. Sebagai seorang beriman yang sedang diuji Allah maka ia mesti tabah menghadapinya, memang sedang mendapat cobaan.

Para pegawai di kantor ia dituntut berbuat jujur memegang amanat yang dibebankannya. Amat berat ujian yang diterima, di tengah-tengah meja tugas yang sepi, dia mesti menahan diri dari berbuat korupsi, manipulasi data-data. Di depannya tertulis jutaan rupiah, bahkan milliaran jumlahnya. Sungguh berat ujian yang dihadapi, ia mesti menahan dari perbuatan “laknat” itu , sebab sedang berpuasa.

Dengan demikian berpuasa bagi siapa saja dengan profesi maupun pekerjaan yang ditekuninya merupakan ujian Allah SWT. Sebagaiamana disebutkan dalam beberapa ayat al-Qur’an surat Hud ayat 7 yang artinya sebagai berikut:

”  Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu Berkata (kepada penduduk Mekah): "Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati", niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata".

Maksud dan kandungan ayat diatas adalah Allah menjadikan langit dan bumi untuk tempat berdiam makhluk-Nya serta tempat berusaha dan beramal, agar nyata di antara mereka siapa yang taat dan patuh kepada Allah. Kepatuhan terhadap segala perintah Allah menunjukkan betapa tinggi ketakwaan seseorang. Demikian juga sebaliknya pembangkangan yang dilakukan seseorang menjadi bukti bahwa seseorang amat  berani melawan siksa dan azab yang pedih. Tentu, kepatuhan yang dilakuka seseorang didasari dengan niat yang ikhlash, Sebab, segala amal perbuatan seseorang amat tergantung dengan niatnya.  Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Bayyinah ayat 5 yang artinya : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”.

Jadi , ukuran amal saleh ada dua hal; pertama ikhlash, kedua lurus (sesuai dengan syariat).

Oleh karenanya terkait dengan profesi yang ditekuni seseorang pada dasarnya semua merupakan ujian dan cobaan dari Allah SWT, barangsiapak yang rela menerimanya dia akan mendapat berkah dalam hidupnya, terlebih di bulan suci Ramadhan. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis sahih yang diriwayatkan Imam Ahmad sebagai berikut; “ Sesungguhnya Allah Ta’ala akan menconba hamba-Nya atas apa yang diberikan-Nya. Apabila dia rela atas pemberian (takdir) yang Allah tetapkan, niscaya dia akan beroleh keberkahan dan Allah akan melapangkannya. Sebaliknya, jika ia tidak rela atas takdir itu, maka Allah tak akan memberikan berkah dan kelapangan atas takdir yang ditetapkan kepadanya. 

Demikian berkah Ramadhan semoga benar-benar mendatangkan berkah bagi kita semua. Amien .




Back to Top